Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Jangan Salahkan Cinta, Cerita Cinta Romantis

Tidak Perduli Statusmu Aku Tetap Cinta


Seorang pemuda beralis tebal terlihat sedang menunggu seseorang. Dia bersandar di dinding gedung pemotongan kain, sebuah perusahaan Garmen. Di tangannya membawa segelas coklat hangat.

Saat sang supervisor melewatinya, dia segera menarik tangan perempuan bersurai Hitam itu dan menyerahkan minuman coklat hangat itu padanya.

"Ini untuk Bu Sinta. Segera diminum ya, sebelum keburu dingin."

Entah ini minuman yang keberapa kalinya, pemuda Itu pun berbalik badan mulai melangkah. Terdengar Sinta berteriak dengan kesal, "Aku sudah bersuami, berhentilah mendekatiku!"

"Aku tak perduli!" ujar pemuda itu tanpa menoleh kebelakang. Dia terus berjalan menuju ke gedung pemotongan kain.

Sinta masuk ke kantor dan meletakkan minuman itu di atas mejanya, lalu dia mengempaskan tubuhnya di atas kursi empuk dengan kasar.

"Lagi-lagi si Agung bikin kesal ya, Sin?" tanya Wina.

Rekan kerja satu kantor yang juga sahabat baiknya ini, hapal betul sikap perempuan bermata cantik yang ada di meja sebelahnya.

"Iya, siapa lagi kalau bukan dia, Win? Sudah kukatakan, aku sudah bersuami dan dia jawab tak perduli. Coba, kesel, kan?"

"Kenapa nggak kamu pertimbangkan saja si Agung itu?"

"Gila kamu, Wina. Dia baru berumur 22 tahun sementara aku sudah 32 tahun."

"Lantas kenapa? Cinta tak pandang usia, Sinta. Kulihat Agung sangat dewasa dan tulus mencintaimu. Dari pada kamu makan hati terus kayak gini, digantung gak jelas."

Sinta terdiam mendengar ucapan terakhir Wina yang ada benarnya. Dipandanginya minuman coklat hangat yang masih mengepulkan sedikit uapnya, lalu menyesapnya perlahan. Terlintas kejadian satu tahun silam saat dia bertemu dengan Agung.

Sinta tidak hanya berparas cantik, dia juga memiliki hati yang lembut dan penyabar. Wanita yang bekerja di perusahaan garmen itu baru saja menghabiskan cuti tahunannya, begitu masuk kerja dia harus berhadapan dengan berbagai macam laporan dan masalah. Sinta yang pernah kerja di singapura sebagai supervisor itu selalu menyelesaikan masalah dengan mudah.

"Dimana orang yang bilang mau berhenti kerja itu, Rani?"

"Sekarang ada di office, Bu Sinta," jawab Rani, leader produksi jahit yang sedari tadi menunggu Sinta di depan pintu.

Sinta melangkah masuk menuju meja kerjanya diikuti Rani, terlihat seorang pemuda berkulit sawo matang duduk di kursi. Sinta pun duduk di kursinya. Lalu mengambil kertas yang telah disiapkan Rani di atas meja.

"Agung Prasetyo, usia 21 tahun, seorang operator produksi departemen jahit, dengan kontrak kerja dua tahun. Terhitung mulai dari 10 Januari 2019 hingga 10 Januari 2021. Betul?" Sinta membaca kontrak kerja pemuda yang ada di depannya saat ini.

"I-iya, betul, Bu Sinta," jawab Agung gugup menatap wanita berhidung mancung itu.

Sinta lalu menunjukkan kalender yang ada di atas mejanya, "Hari ini tanggal 10 Januari 2020 berarti masih ada sekitar satu tahun lagi masa kerjamu, kalau kamu berhenti saat ini juga kamu harus membayar ganti rugi karena kamu memutuskan secara sepihak." Perempuan berkulit putih itu menerangkan, sedangkan Agung tak berkedip sedari tadi menatap wajah Sinta.

"Hello ... Agung? Melamun pula!"

"I-iya, maaf, Ibu bilang apa tadi?" tanyanya malu-Malu ketahuan tidak konsentrasi.

"Saya bilang, apakah kamu sudah siap ganti rugi? karena kamu yang memutuskan kontrak kerja dengan PT Tunas Mandiri?"

"Wah ... saya harus bayar sebanyak itu? Kalau begitu saya tidak jadi berhenti, Bu. Saya lanjut kerja lagi," jawab Agung dengan wajah terkejut.

"Nah, kalau sudah begini jadi paham, kan? Jangan sedikit-sedikit mengancam mau berhenti kerja, dong. Setiap masalah harus dihadapi bukan dihindari. Paham kamu?"

"Iya, Bu Sinta, maafkan saya." Tampak wajah Agung menyesali perbuatannya.

Bunyi serinai menyadarkan Sinta dari lamunannya, petanda jam pulang kerja telah tiba. Dia pun bersiap-siap untuk pulang.

Memory Itu Muncul Kembali
Tujuh tahun silam Sinta dipaksa menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Begitu juga dengan suaminya, Rangga, dipaksa menikah dengan Sinta. Suatu hari Rangga pergi tanpa pamit pada siapa pun, hingga detik ini sudah empat tahun lamanya dia tak pernah kembali.

Status Sinta digantung begitu saja, dari pernikahan dengan Rangga, Sinta memiliki seorang anak laki-laki berusia lima tahun. Anak itu bernama Rayn.

Cuaca cerah di hari libur membuat Sinta semangat, karena hari ini dia akan mengajak putra semata wayangnya pergi jalan-jalan ke Mall.

"Mama, ayo cepat," ajak Rayn tak sabaran.

"Sabar, Sayang." Sinta menggandeng tangan Rayn menuju ke taksi online yang telah menunggu mereka di depan rumah. Hari ini Sinta sengaj tidak bawa mobil. Dia ingin santai bersama Rayn.

Mobil berwarna silver itu berhenti di depan pintu utama Mall Ramayana. Sinta dan Rayn turun, berjalan menuju ke area bermain yang ada di lantai dua. Bocah berbadan gembul Itu begitu bahagia, dia pun minta naik kuda-kuda yang berputar-putar. Tawa tiada henti menghiasi bibir mungilnya, tak berselang lama insiden terjadi. Saat mainan kuda itu sedang berputar tiba-tiba berhenti mendadak dikarenakan mesinya rusak. Sebagian anak-anak jatuh, termasuk Rayn. Dia menjerit ketakutan. Untung, ada sepasang tangan kekar memeluknya erat.

Sinta bergegas menghampiri. Dia terkejut melihat Rayn dalam gendongan Agung. Agung selalu muncul ketika Sinta butuh pertolongan. Akhirnya mereka bertiga menghabiskan waktu bersama.

Agung mengajak Rayn makan es krim sambil bercerita di taman buatan yang ada di sudut Mall.

Ijinkan Aku Menjadi Penggantinya


Sinta terharu melihat Agung begitu sayang pada anaknya, mata Sinta berca-kaca.

"Apakah kamu hanya memikirkan egomu sendiri?

"Apa maksudmu bertanya begitu?"

"Rayn butuh sosok seorang bapak, kamu tahu itu, kan? Dan aku siap jadi pengganti bapak untuk Rayn," ucap Agung menatap Sinta.

"Itu tidak mungkin, Agung! Usia kita terpaut jauh. Aku lebih tua darimu dan ini cinta yang salah," sahut Sinta.

"Mana letak salahnya? Cinta itu anugerah terindah dari Tuhan. Dia datang pada siapa saja tanpa direncanakan. Apa karena statusmu yang tak jelas itu? Aku siap menerima kamu apa adanya, Sinta!"

"Maaf! Aku tak bisa Gung. Terima kasih untuk tadi." Seketika Sinta membawa Rayn pergi dari hadapan Agung. Laki-laki berbadan tegap itu hanya diam menatap kepergian mereka.

Sinta menggandeng tangan Rayn dan mengajaknya makan di KFC. Anak imut itu senang sekali. Kebetulan ada anak yang sedang merayakan ulang tahun di KFC.

"Mama, nanti Rayn ulang tahun mau dirayain seperti itu, boleh?" Rayn menunjuk ke ruangan yang penuh dengan balon warna-warni.

"Boleh, Sayang. Rayn mau undang siapa saja?" tanya Sinta penasaran.

"Om Agung, Mah."

Sinta terdiam seribu bahasa, napasnya mulai sesak. Bukan karena Rayn menyebut nama Agung tetapi dia melihat sosok lelaki yang ada dalam pesta ulang tahun itu. Sinta mendengar anak itu memanggilnya ayah. Iya, itu Rangga yang mencampakkannya begitu saja selama empat tahun kembali lagi.

Saat lelaki berpakaian necis itu keluar dari ruang ulang tahun, Sinta bergegas menghampirinya.

"Mas Rangga!" Panggilan Sinta menghentikan langkahnya. Tentu, Rangga masih kenal sama Sinta. Dia hanya pura-pura bodoh.

"Siapa mereka? Empat tahun tanpa kabar darimu, aku masih tetap setia menunggumu. Apakah ini balasan darimu?"

"Maaf, Sinta. Aku tak bisa mencintaimu. Aku sudah mencobanya. Kalau pun kamu bisa hamil, itu terjadi karena aku mabuk, bukan?"

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Rangga, "Tega kamu padaku, Mas. Kalau kamu tidak bisa menerimaku, kenapa tidak berterus terang dari dulu?" Sinta berusaha menahan air matanya yang hampir tumpah.

"Sekali lagi maafkan aku, Sinta. Saat ini juga aku talak tiga kamu, Sinta binti Ahmad. Aku akan segera mengurus semua surat-surat perceraiannya."

Aku Akan Menjagamu


Hati Sinta hancur. Dia melangkah ke meja tempat Rayn duduk. Dan menggendong anak itu keluar dari tempat tersebut. Sinta mempercepat langkahnya menuju toilet yang tak jauh dari sana.

Napas Sinta sesak, dia tidak bisa menahan lagi. Air matanya menganak sungai. Sinta merasakan kepalanya pusing. Dia terhuyung. Untung Agung segera menangkap bahu Sinta. Didekapnya wanita itu, lalu mengajaknya duduk di kursi yang tak jauh dari area toilet. Agung mengambil alih Rayn untuk duduk di pangkuannya. Sinta terus menangis, kali ini dia sungguh sangat membutuhkan bahu untuk bersandar.

"Menangislah ... kalau kamu tidak bisa menahannya lagi, menagislah sepuasmu, keluarkan semuanya. Setelah ini aku pastikan tidak akan ada air mata lagi." Agung memeluk erat Rayn dan Sinta. Dia tak mempermasalahkan usia dan status Sinta, dia hanya tahu bahwa Sinta adalah anugerah terindah dari Tuhan untuknya yang harus dia jaga dengan sepenuh hati.


Tamat


Autor : Cean

1 komentar untuk "Jangan Salahkan Cinta, Cerita Cinta Romantis "

  1. Woow keren sekali, terus menulis dan berkarya ya kak..semangat..😍

    BalasHapus