Hadiah Terindah Dibalik Birunya Cinta
Kau Curangi Aku
"Apakah uang yang selama ini Mas beri tidak cukup?"
Dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter persegi, Mas Hadi, Saras beserta kedua putrinya tengah berkumpul. Saras kepergok oleh Mas Hadi meminjam uang ke rentenir.
Wanita berkulit cokelat itu tertunduk dalam, tak berani mengangkat wajahnya. Tentu, ia merasa malu kepada Mas Hadi, Sellin dan Sellina, atas kelakukannya.
"Maafkan aku, Mas, aku janji tak akan mengulanginya lagi," ujar Saras dengan air mata berlinang
"Baiklah, aku maafkan perbuatanmu kali ini dan kuberikan kesempatan terakhir untukmu!"
Mas Hadi memberikan ultimatum pada saras bukan tanpa sebab. Laki-laki berkulit sawo matang dan berbadan tegap itu acap kali didatangi para rentenir untuk meminta pelunasan pinjaman uang atas nama istrinya. Mas Hadi berlalu meninggalkan istrinya yang masih sesenggukan.
"Sabar, ya, Ma!" Sellin dan Sellina memeluk perempuan yang berprofesi sebagai guru TK itu.
Hadi Purnomo, laki-laki bermata sayu dengan hidung mancung, bekerja sebagai IT di salah satu perusahaan elektronik. Pagi-pagi sebelum Mas Hadi berangkat kerja, ia membantu mengurus keluarga. Dari membuat sarapan, kadang juga mencuci serta beberes rumah, semua ia lakukan karena bukti kecintaan pada keluarganya. Ia merasakan betapa banyaknya tugas seorang istri, maka ia berinisiatif untuk membantu pekerjaan wanita yang telah memberikannya dua bidadari itu. Sellin sepuluh tahun dan Sellina delapan tahun. Bahkan, semua uang gajinya diserahkan seutuhnya kepada Saras.
Akan tetapi, niat baik Mas Hadi dimanfaatkan oleh Saras, ia semakin merajalela. Merasa ia seperti nyonya besar, kerjanya hanya jalan-jalan menghamburkan uang dan mentraktir teman-temannya.
Kebohongan yang Terbongkar
Saras bukan berasal dari keluarga kaya. Ia berasal dari keluarga menengah ke bawah. Pernikahannya dengan Mas Hadi adalah dasar suka sama suka, tanpa paksaan. Setelah menikah, di dekat rumah Mas Hadi ada TK yang mencari tenaga pengajar. Saras pun meminta ijin pada sang suami untuk mengajar TK. Tentunya Saras yang hanya tamatan SMA harus melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Saras pun kuliah atas persetujuan Mas Hadi dan dibiayai oleh suaminya itu.
Seiring bergulirnya waktu, semakin membuka mata Sarah akan dunia luar. Ia mulai terjerumus dengan pergaulan sosialita, begitu bangga, bersenang-senang bersama teman-temannya apalagi saat ada rapat atau kunjungan ke luar kota. Ia bahkan lupa akan kewajibannya pada suami dan kedua anaknya.
"Mas, besok ada aku ada acara kunjungan ke luar kota, mewakili pihak sekolah," ujar Saras pada suaminya saat duduk di ruang tamu.
"Berapa hari?" tanya Mas Hadi sambil menyesap teh manis hingga separuh gelas.
"Sekitar dua hari, Mas!"
"Baiklah, aku ijinkan," ujar Mas Hadi.
Hari ini adalah hari ke tiga, sudah lewat dari hari yang disebut oleh Saras, tetapi perempuan berambut pendek itu belum juga pulang. Mas Hadi pun berinisiatif ke TK tempat Saras mengajar, guna menanyakan informasi terkait istrinya yang belum juga pulang itu.
"Assalamualaikum, Pak Zainal.""Waalaikum salam, Pak Hadi."
Mereka berjabat tangan. Pak Zainal adalah guru olahraga di TK Pelangi.
"Pak Zainal, kedatangan saya ini mau tanya tentang Saras. Katanya dia ditunjuk pihak sekolah untuk kunjungan ke luar kota. Kok, sudah tiga hari belum juga pulang, ya?" Tampak raut cemas di wajah Mas Hadi.
"Iya, betul, Pak. Tapi acara hanya satu hari saja, Pak Hadi, tak sampai tiga hari," jawab guru olahraga itu.
"Ohhh, gitu ya, apa saya yang salah dengar, ya?" Mas Hadi mulai bingung. Lalu, ia pun pamit pulang dan sabar menunggu kepulangan istrinya.
Air Susu Kau Balas Dengan Air Tuba
Senja mulai meninggalkan cakrawala, bergantian dengan sinar rembulan yang menerangi gelapnya malam. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Mas Hadi mengintip dari balik gorden jendela ruang tamunya. Tampak Saras turun dari mobil dan berpamitan pada laki-laki yang ada di belakang setir itu.
Saras langsung menyelonong masuk ke dalam rumahnya tanpa mengucapkan salam.
"Dari mana saja kamu!"
Langkah Sarah terhenti, begitu mendengar suara Mas Hadi tepat di belakangnya.
"A-aku baru pulang, Mas, dari acara kunjungan ke kota," jawab Saras gugup.
"Siapa laki-laki yang antar kamu pulang barusan, haa?"
"Ohh, i-itu Pak Agung, ketua yayasan TK Pelangi, Mas," jawab Saras.
"Ada hubungan apa kamu dengan dia?"
"Hanya sebatasteman kerja saja, Mas," kilah Saras.
"Kamu kira aku bodoh apa, haa? Semua yang kamu lakukan di luar sana aku sudah tahu," ucap Mas Hadi geram. "Ini, kalau mau buktinya!" Mas Hadi melempar sebuah amplop berisikan foto-foto Saras bersama lelaki tadi.
Saras mengambil amplop yang tergeletak di atas meja tamu. Dengan jari gemetar, ia membuka bungkusan berwarna cokelat tua itu. Matanya terbelalak melihat foto-foto mesra dirinya dengan sang ketua yayasan yang berstatus duda itu.
Aku sengaja menyewa orang untuk mencarimu. Kamu lupa Saras, kalau temanku banyak berkeliaran di kota? Mudah sekali untuk melacak keberadaanmu. Kali ini tiada maaf bagimu, Saras, kamu sudah terang-terangan menghianantiku. Aku talak kamu saat ini juga."
Saras bergeming, entah ia harus bersedih atau berbahagia. Namun, bagi Saras yang mata hatinya telah dibutakan oleh maksiat tak bisa melihat kebaikan dan pengorbanan dari sang suami.
Meninggalkan Kota Kelahiran
Mas Hadi keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun, hanya pakaian yang menempel di badannya saja. Laki-laki Sholeh itu, punya alasan untuk tak mengusir Saras dari rumah. Ia mengerti kalau kedua anak perempuannya masih sangat memerlukan kehadiran seorang ibu dibandingkan seorang ayah.
Namun, jarak antara rumah yang ditempati Saras dengan rumah orang tua Mas Hadi sangatlah dekat. Setidaknya ia tak perlu risau dan tentu memudahkan sang Kakek dan Nenek untuk memantau keadaan kedua cucunya.
Mas Hadi merantau ke luar kota, meninggalkan kota kelahiran sekaligus kota yang menorehkan sejarah pahit baginya. Mas Hadi giat bekerja untuk masa depan kedua anak perempuannya, di samping itu ia terus memperbaiki hubungan dirinya dengan Sang Khalik.
Kesabaran Berbuah Manis
Barang siapa yang bersabar dan salat tentu Allah sebagai penolongnya. Allah tengah menyiapkan hadiah terbaik untuk Mas Hadi. Enam tahun menyendiri, akhirnya Mas Hadi dipertemukan dengan seorang wanita cantik. Dewi Anjani, berkulit putih, hidung mancung, tutur katanya lembut, sungguh jelita.
Mas Hadi pun menikahi Dewi, mereka hidup bahagia. Mas Hadi tinggal di rumah Dewi karena Dewi anak tunggal sementara ibunya sakit-sakitan. Dewi meneruskan usaha keluarganya yaitu pabrik sepatu yang ditinggalkan mendiang bapaknya.
Informasi terakhir tentang Saras, ia terlilit hutang rentenir dan dipenjarakan karena tidak bisa melunasi. Begitulah, penyesalan memang selalu datang belakangan.
Tamat
Autor: Cean
Riau, 28 juli 2021

Posting Komentar untuk "Hadiah Terindah Dibalik Birunya Cinta"