Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kutukan Sarayan Kisah Mistis di Tanah Rantau

Mitos Bagiku Hanya Dongeng Belaka


"Dek, sedang apa itu?" sapa seorang ibu separuh baya yang kebetulan lewat depan rumahku.

"Mau tanam kunyit, Bu, biar nggak beli ke warung," jawabku ramah seraya mengulum senyum.

"Nggak boleh loh, Dek," ujarnya menampakkan wajah tak suka.

"Kutukan?" Aku balik bertanya.

Namun, Ibu itu berlalu begitu saja meninggalkanku yang masih penasaran. Kutukan apa yang dia maksudkan? Ah, memang di sini aku baru tinggal beberapa hari. Jadi masih banyak yang belum kuketahui, sebetulnya aku tidak suka pemikiran kolot seperti itu.

Entah kenapa suara kicau burung bersamaan dengan desiran angin yang berhembus halus membuat bulu kuduk mendadak berdiri. Aku terkesiap mengusap tengkuk, lalu masuk ke dalam rumah dan meletakkan kunyit ke dalam wadah bumbu dapur.

Daerah ini memang terasa berbeda sejak pertama kali aku menginjakkan kaki. Letaknya yang berada di sisi hutan, lalu rumah tetangga yang berjarak cukup jauh antara satu dengan yang lain, sempat menciutkan tekadku pindah ke sini. 

Sebetulnya enggan meninggalkan kota Pekanbaru, tetapi keinginan untuk hidup lebih baik mendorongku dan suami supaya mencari tempat baru. Menurut Kak Yulia, di kampung suaminya harga rumah terbilang masih murah, karena itulah kami memutuskan untuk tinggal di sini. 

Selain itu, bisa juga setiap saat jumpa dengan Kak Yulia, kakak perempuanku satu-satunya.

"Kak, kemarin aku kan mau tanam kunyit ada ibu-ibu bilang katanya pamali tanam di sini. Sebenarnya ada mitos apa, sih?" Rasa penasaran mendorongku untuk bertanya langsung pada Kak Yulia, saat aku main ke rumahnya.

"Oh itu, orang bilang sih sarayan, Dek. Yah seperti kita ini, posisi rumah kakak kan di bawah rumahmu. Jadi kamu jangan tanam pisang atau kunyit, nanti dipercaya jika hujan turun dan airnya mengalir ke rumah kakak. Kalau nggak sakit, kakak bisa mati," jelasnya panjang lebar sembari sibuk menyuapi Arfan, anak bayinya.

"Hmm, analoginya njomplang banget sih. Apa hubungannya pisang, kunyit dan kematian?" sanggahku.

"Nggak tahulah, tapi emang itu pernah kejadian. Kakak saja kalau ingat merinding," ucapnya sambil bergidik.

"Kejadiannya di mana?"

"Hehh, di rumah itu. Penghuni sebelumnya meninggal karena serayan, itu kakaknya Ayunda. Nah, itu anak nggak mau dengar kata Mbah Dudeng, masih saja tanam pisang di sekitar rumahnya. 

Akhirnya gitulah, setelah hujan turun besoknya Nyi Ratna sakit keras dan meninggal dunia, padahal sebelumnya dia sehat-sehat saja," tuturnya lagi dengan mimik wajah serius.

"Kok, kakak nggak cerita sebelumnya sih? Kalau di rumah itu ada yang meninggal, Kakak tau kan aku penakut," keluhku sebal.

"Heh, justru karena aku tau kamu penakut, jadi nggak kubilang. Nanti nggak jadi dekatan sama adek kesayangan," ujar Kak Yulia melontarkan godaan sembari mencubit pipiku gemas.

Aku Tetap Nekad Logikaku Mengalahkan Mitos yang Ada


Aku menggelar napas berat, bagiku lagi-lagi cerita seperti ini hanyalah dongeng belaka. Bukankah, sejak dahulu kala cerita dari mulut ke mulut selalu menjadi trending topik pada masanya. 

Semakin ditambah bumbu, supaya terdengar menarik, mataku menatap layar gawai yang sedari tadi menyala. Otakku sedang berputar untuk menghasilkan uang lebih, demi menutupi kebutuhan kami yang baru memulai hidup dari nol.

Siang ini aku bersiap menanam pisang di area belakang rumah. Di pot kecil pula kutamkan sejenis sayuran juga bumbu dapur. Lumayanlah menghemat uang dapur. Beberapa hari lalu kulihat di beranda media sosial, eksistensi pisang sedang naik, maka dari itu aku sangat tertarik untuk mencoba menanamnya, orang sini bilang itu adalah pisang abu.

"Neng, yakin mau tanam pisang?" tanya Mang Karim, tukang kebun langganan warga.

"Iya, kenapa Mamang?"

"Yah, Mamang bukan apa-apa. Tapi, posisi rumah Neng Yulia itu ada di bawah rumah, Neng. Kata orang sini takutnya kena sarayan, Neng," jelasnya.

"Sarayan itu apa? Sepertinya pantang sekali buat orang sini, Mang?"

"Entahlah, Mamang sendiri nggak terlalu percaya, tapi itu nyata ada, Neng."

"Mitos kan nggak bisa dipertanggung jawabkan secara logika, Mang. Sudahlah tanam saja pisangnya, aku mau mulai bisnis ini dengan keyakinan hati.

"Memang betul, tapi tidak ada salahnya kita mendengarkan ucapan orang jaman dulu, Neng. Orang jaman dulu itu paham sesuatu, tapi tidak bisa memperjelaskan secara logika.

"Iya sih, sudahlah Mang, apa pun yang terjadi itu semua kehendak Allah."

"Tapi, sarayan itu seram, Neng. Sebenarnya Mamang takut nih, tapi kalau Neng tetap nekat ya, sudah."

"Memang sebahaya apa? Adakah tanda-tanyanya, Mang?"

"Kita lihat saja nanti, kalau berbuah tiba-tiba hujan, itu berarti pertanda tidak baik."

Kutukan Mengerikan Itu Benar-benar Terjadi

Setelah menunggu sekian lama akhirnya kebun pisang kecil milikku mulai menampakkan hasil. Tanahnya subur, di sini memang sangat cocok untuk betani, apalagi mengembangkan pisang. Hanya saja untuk menanam bawang, di sini tidak cocok karena lembab.

Hari ini waktu pemberian pupuk, buah pisang yang ranum membuat gairah bisnisku semakin menggelora. Saat tengah sibuk menyiapkan pupuk, sekelebat bayangan hitam melewatiku. 

Tentu saja aku terkesiap, saking cepatnya aku tidak bisa melihat jelas. Entah apa yang barusan lewat itu, mendadak tubuhku lemas sekali.

Langit mendung menggelayut sejak siang tadi, sehingga saat malam tiba turun hujan yang sangat deras disertai angin yang cukup kencang. 

Hati rasanya resah teringat kebun pisang yang baru saja bisa berbuah. Bukan hanya hal tersebut yang mengganggu, perkataan Mang Karim beberapa bulan lalu masih tergiang di kepalaku tentang sarayan.

Hujan semalaman enggan untuk berhenti, membuatku malas sekali beranjak dari pembaringan. Menjadikan udara pagi ini begitu dingin. Sesaat aku mendengar suara orang begitu ramai berbincang-bincang, karena penasaran aku pun mengintip dari jendela kamar. 

Aku melihat beberapa tetangga berjalan turun ke bawah, menuju rumah Kak Yulia. Darahku berdesir panas, kembali teringat pada cerita sarayan. Secepatnya kuambil hijab lalu ikut ke rumah Kak Yulia.

Kak Yulia terbaring di tengah rumah dengan napas tersenggal, matanya melotot seperti orang tercekik, tubuhnya panas sekali. Semua orang sibuk membantu, ada yang mengaji dan mengompres Kak Yulia. Karena kondisi semalam hujan, tidak memungkinkan bagi kami membawanya ke rumah sakit. Jalanan licin terlalu membahayakan keselamatan bersama.

Kondisi Kak Yulia semakin memburuk ketika hari menjelang sore. Apa yang dilakukan warga belum membuahkan hasil maksimal. Badannya semakin panas tinggi, bibirnya mulai membiru dengan mata masih melotot. Hati benar-benar sedih melihat kondisi kakakku, tidak tahu lagi harus berbuat apa. Pada akhirnya aku hanya mampu berserah diri kepada Sang Maha Pencipta.

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiu'un." Serempak semua orang mengucapkan kalimat yang tidak siap kudengar.

Kak Yulia menghembuskan napas terakhir, hal itu cukup mengguncang jiwaku. Seperti seorang anak yang kehilangan ibunya, aku menangis meratapi kepergian kakakku. Mendekap seonggok tubuh yang sudah tak bernyawa lagi.

Setelah usai dimakamkan rumah Kak Yulia masih ramai dengan para pelayat. Memberiku semangat supaya bangkit, aku tidak bisa berbuat banyak selain menerima semua ucapan semangat dari mereka.

"Neng, sabar yah, jangan tangis terus kepergian kakakmu. Kasian nantinya," kata Bik Sum, istri Mang Karim.

"Bi, apakah Kakakku terkena sarayan?" Entah kenapa pertanyaan itu terlontar begitu saja.

"Bibi nggak tau, Neng, tapi bisa ditanya saja ke orang pintar."

Selama seminggu aku mengurung diri di dalam kamar karena merasa bersalah. Jika benar sarayan itu adalah kutukan, maka akulah yang bertanggung jawab atas kematian Kak Yulia. Karena perasaan bersalah terus menghantuiku, akhirnya kuputuskan untuk menemui Pak Ustad yang ada di kampung sebrang.

"Yah, memang jika bicara soal mistis. Hal tersebut tidak akan pernah bisa kita luruskan dengan agama, Neng. Namun, tidak ada salahnya kita juga mendengarkan apa kata orang tua, mempercayai mitos yang ada. Asal tidak meyakini terlalu mendalam. Seperti sarayan ini, logikanya memang tidak masuk akal. Akan tetapi, mitos ini terjadi terus menerus, jadi kembali saja pada kepercayaan masing-masing," jelas Pak Ustad panjang lebar.

Aku menarik napas, rasa sesak itu kembali memenuhi ruang hati. Iya, aku terlalu gegabah dengan tidak mendengarkan omongan orang. Walau semua yang terjadi tetaplah kehendak Allah.


Tamat

Terima kasih sudah membaca

written By Cean

Riau, 30 juli 2021

Posting Komentar untuk "Kutukan Sarayan Kisah Mistis di Tanah Rantau "