Sebait Doa dari Hati Istri yang Terzolimi
Kumpulan Kisah Pilu Istri Sholehah
Pesonamu Telah Membutakan Mataku
"Tingginya ilmu agama tidak menjamin akhlak seseorang."
Itulah nasihat terakhir yang dapatkan dari Ustadzahku, sebelum beliau diboyong suaminya ke negeri jiran Malaysia.
Harusnya aku menjadikan hal itu sebagai cermin dalam mencari jodoh. Namun, apalah dayaku aku hanya manusia biasa yang terlena dengan pesona kaum Adam yang satu ini.
Namanya Adnan, laki-laki yang berhasil merebut hatiku. Kami berjumpa di acara peresmian pondok pesantren tahfidz Qu'ran.
Adnan adalah keponakan dari pemilik pondok Pak Yusuf dan istrinya Intan adalah Kakak kelasku.
Bang Adnan lulusan S1 ilmu tarbiyah di San'a ibu kota Yaman.
Wajahnya yang tampan ditunjang dengan postur tubuh yang tinggi benar-benar merupakan sosok sempurna bagi siapa saja yang melihatnya. Pria itu membantu mengurus pondok sedangkan aku membantu Mbak Intan mengajar di kelas putri. Karena berada dalam satu naungan pondok dan setiap hari berjumpa, maka timbullah rasa suka diantara kami.
Pak Yusuf dan Mbak Intan menangkap sinyal pada gelagat kami. Walaupun kami saling memendam rasa, tapi dari tatapan mata bisa terlihat kalau kami saling jatuh cinta.
"Cieee ... cieee, ada yang merona wajahnya," goda Mbak Intan seolah dia tahu kalau aku lagi mencuri pandang pada Bang Adnan.
"Ishhh ... Mbak Intan nih," kataku tersipu malu.
"Haura malam ini Mbak dan Mas Yusuf mau ke rumahmu tunggu di rumah ya," ucapnya memberitahu.
"Ada apa, Mbak?" selidikku.
"Ya, mau melamar kamu, Dek!"
Aku terkesiap. Tanpa sadar mangkok yang kupegang sejak tadi terlepas jatuh mengenai kaki. Aku meringis kesakitan. Memang dari tadi aku bantu Mbak Intan di dapur mengalap piring dan mangkok yang baru selesai cuci.
Pondok Tahfidz ini baru berdiri, masih tahap merintis, jadi belum bisa mempekerjakan banyak orang. Disini betul-betul niat lillahi ta'ala. Kami sama-sama bahu-membahu merintis dan membangun pondok ini.
"Jangan salah paham, Mbak mau melamarmu untuk Adnan, bukan untuk jadi maduku. Kalau poligami Mbak belum sanggup berbagi, Dek!" Terlihat Mbak Intan tertawa lebar. Bahagia sekali dia dengan kata-katanya barusan. Aku pun bernapas lega.
***
Waktu yang ditunggu pun tiba. Pak Yusuf, Mbak Intan dan Bang Adnan sudah ada di ruang tamu.
"Haura, ada tamu." Bik Mar memanggilku. Bik Mar adalah adik dari Papa. Aku tinggal berdua sama Bik Mar setelah adik dan kedua orang tuaku meninggal kecelakaan dalam kecelakaan tiga tahun lalu.
Aku pun menuju ruang tamu dengan membawa minuman dan beberapa cemilan lalu duduk di samping Bik Mar.
Awalnya kami larut dalam pembicaraan pondok pesantren hingga akhirnya Bang Adnan menyampaikan niatnya datang ke rumah. Yaitu melamarku.
"Kalau boleh, bulan depan saya ingin menikahi Haura, Bik," tegasnya.
"Bibi setuju saja, sekarang keputusannya ada pada Haura," kata Bik Mar. Ia menggenggam jemariku, seolah tahu kalau aku saat ini sedang grogi, jantungku tak karuan Irama detaknya.
"Aku terima lamaran ini," jawabku pelan kemudian tertunduk malu.
"Alhamdulillah!" Serentak semua mengucapkan puji syukur pada Allah atas kelancaran hajat ini.
Singkat cerita, aku dan Bang adnan pun menikah. Pesta kecil-kecilan diadakan di pondok pesantren yang dihadiri sanak famili, wali santri beserta santriwan dan santriwati. Lalu kami pun tinggal di rumah yang disediakan dari pihak pondok.
Masa-masa Indahku adalah pacaran setelah menikah, halal di ujung rindu. Tidak ada pacaran sebelum menikah, itu prinsipku dari dulu. Setahun menikah aku belum juga hamil, ditambah lagi keadaan pondok sekarang sudah ramai. Pak Yusuf menyerahkan tanggung jawab Pondok sepenuhnya kepada Bang Adanan, karena mereka buka cabang baru di kota lain.
***
Sikapmu Sungguh Menusuk Jantungku
Akhir-akhir ini aku merasakan suamiku sedikit sensitif mudah tersinggung emosinya meledak-ledak padahal hanya karena hal sepele saja. Entah apa sebabnya aku pun tidak tahu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, aku tersentak dari tidurku. Bergegas bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu menggelar sajadahku di samping tempat tidur. Bermunajat kepada Allah, memohon ampunan-Nya. Setelah itu barulah aku membangunkan Bang Adnan.
"Bang, Bang Adnan! Ayo bangun." Aku mengedor pintu ruang belajarnya. Sebab, Ia tidak tidur bersamaku semalam.
Pintu terkuak. "Apaan sih, mengganggu saja!" bentaknya. "Sana pergi! Jangan berisik!" Lalu pintu dibanting.
Aku terpaku, seolah tak percaya dengan apa yang kuterima barusan. Napasku terasa sesak, menahan sebak dalam dada.
Seketika aku linglung, tidak percaya dengan semua ini, tetapi inilah kenyataannya. Perlahan air mata pun mengalir.
Kuusap wajah dengan kedua tangan, melirik jam di dinding. Masih ada waktu untuk salat sunah. Mungkin dengan itu hatiku bisa tenang, mengadu pada Sang Pembolak-balik Hati.
Murottal di musala mulai bergema, tanda sebentar lagi Azan subuh akan berkumandang.
Terdengar suara pintu ruang belajar Bang Adnan dibuka. Lalu gemercik air menandakan pria itu tengah membersihkan diri. Setelah itu ia masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
"Assalamualaikum! " pamit Bang Adnan tanpa menoleh ke arahku.
"Wa'alaikumussalam." Aku hanya bisa menatap punggungnya hingga hilang di balik pintu.
Perlahan sifat asli Bang Adanan mulai terlihat. Sensitif, egois, mau menang sendiri, dan temperamen. Walaupun dia sudah berbuat salah dan menyakiti hatiku tetap tidak mau meminta maaf. Selalu dan selalu aku yang memulai minta maaf duluan, walaupun aku tidak bersalah.
Hanya Doa yang Bisa Mengubah Takdir
Kadang aku merasa terzolimi sama sikap suamiku itu, tetapi rasa cintaku lebih besar dari rasa sakit yang diberikannya. Walaupun kami sedang perang dingin, tetap semua kebutuhan makan, minum, pakaiannya kusiapkan.
Teringat akan nasehat ustazahku, waktu di pondok dulu. "Haura, nanti kalau kamu sudah menikah, jangan berantem, tidak teguran dengan suami lewat dari 3hari, itu tidak baik. Semarah apapun, selalu siapkan kebutuhannya dan jalankan kewajibanmu."
Nasihat itulah yang selalu kujadikan panduan dalam berumah tangga.
"Dek, jam delapan pagi Abang ada undangan di kantor camat, siapkan baju Abang!" perintah suamiku. Tanpa basa basi langsung kutaati. Menyiapkan pakaian terbaik untuknya.
Bang Adnan pun pamit. Sebelum beliau pergi aku sudah minta izin padanya kalau akan pergi membesuk temanku--Kak--Dewi--yang lagi sakit. Aku dijemput Nita, teman akrabku.
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Rasanya baru saja sampai di rumah Kak Dewi. Berbagi cerita dan bercanda bersama. Suara dering telepon dari Bang Adnan membuat semuanya buyar. Segera kuangkat panggilan darinya.
"Cepat pulang! Perempuan kok hobinya keluyuran!" bentaknya. Aku mengiyakan dengan suara tergugup. Berusaha bersikap biasa agar tidak terlihat oleh teman-temanku.
***
Dua Minggu setelah kejadian itu, Nita main ke rumahku. Pas Bang Adnan lagi pergi berbelanja keperluan pondok. Kami bercerita banyak, sampai Nita mengajukan pertanyaan yang membuatku kaget.
"Haura, apakah kamu bahagia menikah dengan Bang Adnan?" tanyanya hati-hati.
"Kenapa Nit? Apakah aku terlihat tidak bahagia?"
"Jujur Haura, aku kaget mendengar suara Bang Adnan bentak kamu di telepon kemarin." Nita menatapku.
Dia yang selalu siap menjadi tempat curahan hatiku. Aku tidak tahu harus berkata apa, sampai akhirnya kuceritakan semua luka batin ini.
"Kurang apalagi kamu, Haura? Kamu cantik, salihah, penyabar. Seandainya aku yang ada di posisimu, aku tidak akan kuat. Jujur, aku tidak tahan dibentak-bentak suami."
"Tidak ada istri yang mau dibentak atau dikasari suaminya. Setiap perempuan pasti ingin dihargai, ingin dihormati. Namun apalah daya, ini sudah suratan takdirku, Nit. Aku ikhlas dengan semuanya. Semoga Luka dan rasa sakit ini adalah sebagai penggugur dosa-dosaku," jawabku di sertai deraian air mata. Nita memelukku haru.
"Jika kamu lelah, menyerahlah!" bisik Nita.
"Aku tidak akan menyerah. Aku juga takkan lelah memohon pada Allah, agar Bang Adnan dilembutkan hatinya. Sebab hanya doa yang bisa mengubah takdir."
Tamat
Oleh: Cean
Riau, 23 Oktober 2021
Itulah nasihat terakhir yang dapatkan dari Ustadzahku, sebelum beliau diboyong suaminya ke negeri jiran Malaysia.
Harusnya aku menjadikan hal itu sebagai cermin dalam mencari jodoh. Namun, apalah dayaku aku hanya manusia biasa yang terlena dengan pesona kaum Adam yang satu ini.
Namanya Adnan, laki-laki yang berhasil merebut hatiku. Kami berjumpa di acara peresmian pondok pesantren tahfidz Qu'ran.
Adnan adalah keponakan dari pemilik pondok Pak Yusuf dan istrinya Intan adalah Kakak kelasku.
Bang Adnan lulusan S1 ilmu tarbiyah di San'a ibu kota Yaman.
Wajahnya yang tampan ditunjang dengan postur tubuh yang tinggi benar-benar merupakan sosok sempurna bagi siapa saja yang melihatnya. Pria itu membantu mengurus pondok sedangkan aku membantu Mbak Intan mengajar di kelas putri. Karena berada dalam satu naungan pondok dan setiap hari berjumpa, maka timbullah rasa suka diantara kami.
Pak Yusuf dan Mbak Intan menangkap sinyal pada gelagat kami. Walaupun kami saling memendam rasa, tapi dari tatapan mata bisa terlihat kalau kami saling jatuh cinta.
"Cieee ... cieee, ada yang merona wajahnya," goda Mbak Intan seolah dia tahu kalau aku lagi mencuri pandang pada Bang Adnan.
"Ishhh ... Mbak Intan nih," kataku tersipu malu.
"Haura malam ini Mbak dan Mas Yusuf mau ke rumahmu tunggu di rumah ya," ucapnya memberitahu.
"Ada apa, Mbak?" selidikku.
"Ya, mau melamar kamu, Dek!"
Aku terkesiap. Tanpa sadar mangkok yang kupegang sejak tadi terlepas jatuh mengenai kaki. Aku meringis kesakitan. Memang dari tadi aku bantu Mbak Intan di dapur mengalap piring dan mangkok yang baru selesai cuci.
Pondok Tahfidz ini baru berdiri, masih tahap merintis, jadi belum bisa mempekerjakan banyak orang. Disini betul-betul niat lillahi ta'ala. Kami sama-sama bahu-membahu merintis dan membangun pondok ini.
"Jangan salah paham, Mbak mau melamarmu untuk Adnan, bukan untuk jadi maduku. Kalau poligami Mbak belum sanggup berbagi, Dek!" Terlihat Mbak Intan tertawa lebar. Bahagia sekali dia dengan kata-katanya barusan. Aku pun bernapas lega.
***
Waktu yang ditunggu pun tiba. Pak Yusuf, Mbak Intan dan Bang Adnan sudah ada di ruang tamu.
"Haura, ada tamu." Bik Mar memanggilku. Bik Mar adalah adik dari Papa. Aku tinggal berdua sama Bik Mar setelah adik dan kedua orang tuaku meninggal kecelakaan dalam kecelakaan tiga tahun lalu.
Aku pun menuju ruang tamu dengan membawa minuman dan beberapa cemilan lalu duduk di samping Bik Mar.
Awalnya kami larut dalam pembicaraan pondok pesantren hingga akhirnya Bang Adnan menyampaikan niatnya datang ke rumah. Yaitu melamarku.
"Kalau boleh, bulan depan saya ingin menikahi Haura, Bik," tegasnya.
"Bibi setuju saja, sekarang keputusannya ada pada Haura," kata Bik Mar. Ia menggenggam jemariku, seolah tahu kalau aku saat ini sedang grogi, jantungku tak karuan Irama detaknya.
"Aku terima lamaran ini," jawabku pelan kemudian tertunduk malu.
"Alhamdulillah!" Serentak semua mengucapkan puji syukur pada Allah atas kelancaran hajat ini.
Singkat cerita, aku dan Bang adnan pun menikah. Pesta kecil-kecilan diadakan di pondok pesantren yang dihadiri sanak famili, wali santri beserta santriwan dan santriwati. Lalu kami pun tinggal di rumah yang disediakan dari pihak pondok.
Masa-masa Indahku adalah pacaran setelah menikah, halal di ujung rindu. Tidak ada pacaran sebelum menikah, itu prinsipku dari dulu. Setahun menikah aku belum juga hamil, ditambah lagi keadaan pondok sekarang sudah ramai. Pak Yusuf menyerahkan tanggung jawab Pondok sepenuhnya kepada Bang Adanan, karena mereka buka cabang baru di kota lain.
***
Sikapmu Sungguh Menusuk Jantungku
Akhir-akhir ini aku merasakan suamiku sedikit sensitif mudah tersinggung emosinya meledak-ledak padahal hanya karena hal sepele saja. Entah apa sebabnya aku pun tidak tahu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, aku tersentak dari tidurku. Bergegas bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu menggelar sajadahku di samping tempat tidur. Bermunajat kepada Allah, memohon ampunan-Nya. Setelah itu barulah aku membangunkan Bang Adnan.
"Bang, Bang Adnan! Ayo bangun." Aku mengedor pintu ruang belajarnya. Sebab, Ia tidak tidur bersamaku semalam.
Pintu terkuak. "Apaan sih, mengganggu saja!" bentaknya. "Sana pergi! Jangan berisik!" Lalu pintu dibanting.
Aku terpaku, seolah tak percaya dengan apa yang kuterima barusan. Napasku terasa sesak, menahan sebak dalam dada.
Seketika aku linglung, tidak percaya dengan semua ini, tetapi inilah kenyataannya. Perlahan air mata pun mengalir.
Kuusap wajah dengan kedua tangan, melirik jam di dinding. Masih ada waktu untuk salat sunah. Mungkin dengan itu hatiku bisa tenang, mengadu pada Sang Pembolak-balik Hati.
Murottal di musala mulai bergema, tanda sebentar lagi Azan subuh akan berkumandang.
Terdengar suara pintu ruang belajar Bang Adnan dibuka. Lalu gemercik air menandakan pria itu tengah membersihkan diri. Setelah itu ia masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
"Assalamualaikum! " pamit Bang Adnan tanpa menoleh ke arahku.
"Wa'alaikumussalam." Aku hanya bisa menatap punggungnya hingga hilang di balik pintu.
Perlahan sifat asli Bang Adanan mulai terlihat. Sensitif, egois, mau menang sendiri, dan temperamen. Walaupun dia sudah berbuat salah dan menyakiti hatiku tetap tidak mau meminta maaf. Selalu dan selalu aku yang memulai minta maaf duluan, walaupun aku tidak bersalah.
Hanya Doa yang Bisa Mengubah Takdir
Kadang aku merasa terzolimi sama sikap suamiku itu, tetapi rasa cintaku lebih besar dari rasa sakit yang diberikannya. Walaupun kami sedang perang dingin, tetap semua kebutuhan makan, minum, pakaiannya kusiapkan.
Teringat akan nasehat ustazahku, waktu di pondok dulu. "Haura, nanti kalau kamu sudah menikah, jangan berantem, tidak teguran dengan suami lewat dari 3hari, itu tidak baik. Semarah apapun, selalu siapkan kebutuhannya dan jalankan kewajibanmu."
Nasihat itulah yang selalu kujadikan panduan dalam berumah tangga.
"Dek, jam delapan pagi Abang ada undangan di kantor camat, siapkan baju Abang!" perintah suamiku. Tanpa basa basi langsung kutaati. Menyiapkan pakaian terbaik untuknya.
Bang Adnan pun pamit. Sebelum beliau pergi aku sudah minta izin padanya kalau akan pergi membesuk temanku--Kak--Dewi--yang lagi sakit. Aku dijemput Nita, teman akrabku.
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Rasanya baru saja sampai di rumah Kak Dewi. Berbagi cerita dan bercanda bersama. Suara dering telepon dari Bang Adnan membuat semuanya buyar. Segera kuangkat panggilan darinya.
"Cepat pulang! Perempuan kok hobinya keluyuran!" bentaknya. Aku mengiyakan dengan suara tergugup. Berusaha bersikap biasa agar tidak terlihat oleh teman-temanku.
***
Dua Minggu setelah kejadian itu, Nita main ke rumahku. Pas Bang Adnan lagi pergi berbelanja keperluan pondok. Kami bercerita banyak, sampai Nita mengajukan pertanyaan yang membuatku kaget.
"Haura, apakah kamu bahagia menikah dengan Bang Adnan?" tanyanya hati-hati.
"Kenapa Nit? Apakah aku terlihat tidak bahagia?"
"Jujur Haura, aku kaget mendengar suara Bang Adnan bentak kamu di telepon kemarin." Nita menatapku.
Dia yang selalu siap menjadi tempat curahan hatiku. Aku tidak tahu harus berkata apa, sampai akhirnya kuceritakan semua luka batin ini.
"Kurang apalagi kamu, Haura? Kamu cantik, salihah, penyabar. Seandainya aku yang ada di posisimu, aku tidak akan kuat. Jujur, aku tidak tahan dibentak-bentak suami."
"Tidak ada istri yang mau dibentak atau dikasari suaminya. Setiap perempuan pasti ingin dihargai, ingin dihormati. Namun apalah daya, ini sudah suratan takdirku, Nit. Aku ikhlas dengan semuanya. Semoga Luka dan rasa sakit ini adalah sebagai penggugur dosa-dosaku," jawabku di sertai deraian air mata. Nita memelukku haru.
"Jika kamu lelah, menyerahlah!" bisik Nita.
"Aku tidak akan menyerah. Aku juga takkan lelah memohon pada Allah, agar Bang Adnan dilembutkan hatinya. Sebab hanya doa yang bisa mengubah takdir."
Tamat
Oleh: Cean
Riau, 23 Oktober 2021
Posting Komentar untuk "Sebait Doa dari Hati Istri yang Terzolimi"