Aku Menanti, Kisah Sedih Bikin Nyesek Hati
Berawal dari Pertemua yang Tidak Terduga
Pantai Mirota selalu menebarkan pesona dengan keelokan dan kemegahannya. Butiran-butiran pasir lembut dan putih, seperti sutra beterbangan dengan rapi dan melayang-layang mengikuti ke mana arah angin bertiup.
Mentari pagi mulai muncul dari persembunyian, malu-Malu menampakkan dirinya sedikit demi sedikit di balik awan.
Seperti biasa jika hari libur tiba, aku lebih suka bermain dengan laut. Meski hanya sekedar menikmati pantai dan ada kalanya berenang, tetapi ini kegiatan yang tidak pernah terlewatkan. Sejak kecil aku menyukai laut. Itulah alasannya Abi membuat rumah dekat pantai. Agar setiap waktu aku bisa leluasa menikmati keindahan laut.
Masih jelas dalam ingatanku, saat air laut sedang pasang. Aku dan Naura berenang bersama. Kami adalah saudara sepupu.
"Gisna, udahan, yuk renangnya. Air laut semakin pasang." Naura segera berenang ketepian.
"Kamu duluan saja, Ra, aku sebentar lagi, deh," jawabku terus berenang ke tengah.
Sesekali aku menyelam, bahkan terus mengganti gaya renangku. Cukup lama dan ini sungguh menyenangkan. Setelah puas akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke tepian.
Aku baru sadar ternyata begitu jauh jarak antara aku dengan pantai, aku terus berenang menendang air laut agar lebih laju. Tiba-tiba kakiku kerak, aku mulai hilang keseimbangan. Air laut yang terus bergoyang dihempas ombak mulai masuk dalam hidungku.
"To-tolong ... tolong!" Aku berteriak sambil melambaikan tangan.
Namun, Naura tidak melihatnya. Aku mulai lemas. Tiba-tiba ada tangan kekar menarik tanganku ke tepi. Sejak itulah aku kenal Mas Hanan. Benih-benih cinta tumbuh mekar, indah dalam hati kami. Sosok imam yang didambakan setiap perempuan ada pada diri Mas Hanan. Laki-laki saleh, tutur katanya lembut, perhatian, dan sangat menghormati perempuan. Sungguh beruntung bisa bersanding dengannya.
Dia Menghilang di Hari Pernikahan
Sungguh bahagianya diriku, hari pernikahan di ambang pintu. Serasa tak sabar untuk menanti hari esok. Hari ini dekorasi dan segala keperluan pengantin telah datang. Tenda, kursi dan segala perlengkapan lainnya. Semuanya sudah tertata rapi, menyambut hari esok.
Cahaya keemasan di balik jendela menembus masuk ke kamarku. Aku sedari subuh sudah siap-siap, begitu juga dengan Ummi dan Abi. Senyum bahagia menghiasi wajah seisi rumah.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, tetapi Mas Hanan belum juga tiba. Rasa gelisah mulai menelusup hati. Aku mengambil telepon genggam dan menelepon Mas Hanan. Tidak aktif. Mas Hanan hidup sebatang kara, kedua orang tua beserta adiknya meninggal dalam kecelakaan pesawat jatuh beberapa tahun silam.
Pernikahan diadakan di kediaman orang tuaku. Pak penghulu serta para saksi mulai gelisah. Desas-desus berbagai macam terkaan mulai terdengar.
Dari kejauhan terlihat dua orang polisi bersama Bang Akmal, berjalan memasuki halaman rumah. Bang Akmal adalah anaknya om Hendra, teman karib Abi.
"Assalamualaikum." Pak polisi memberi salam, "Apakah benar ini rumah Nona Agisna Khotrunnada?" tanya Pak Polisi.
"Benar, Pak, saya orang tuanya Agisna," jawab Abi was-was.
"Kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan bahwasanya mobil yang digunakan Pak Hanan telah jatuh ke jurang. Dan Pak Hanan tidak bisa diselamatkan," kata Pak polisi dengan suara berat.
Mendengar kabar dari pihak polisi, napasku seketika sesak, kepala berat dan pusing. Aku pun pingsan.
Sayup-sayup terdengar suara orang memanggil namaku. Aku mulai sadarkan diri, tercium bau minyak kayu putih yang sangat menyengat. Entah berapa lama aku pingsan.
"Mas Hanan ... jangan tinggalkan aku!" Aku menangis, meraung memanggil namanya.
Ummi memelukku erat, "Sudah Nak, ini takdir dari Allah. Ikhlaskan Hanan, Gisna."
"Aku mau kerumah sakit, Ummi, mau melihat sendiri mayat Mas Han," pintaku memohon dengan linangan air mata.
***
Kami berempat sudah berada di kamar mayat. Seseorang penjaga membuka kain yang menutupi jasad Mas Hanan.
"Mas Hanan ... bangun Mas! Bangun! Jangan tinggalkan aku!"
Aku memeluk erat tubuh yang telah kaku dan tak bernyawa itu. Rasa ini begitu menyakitkan. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka seperti terkena sayatan pisau.
Saat mobil Mas Hanan jatuh ke jurang, Dia terpental keluar dari mobil. Pihak polisi menemukan jasad Mas Hanan tergeletak jauh dari mobilnya. Itulah informasi yang aku dengar dari Abi saat menuju ke rumah sakit tadi. Pihak polisi mendapatkan alamatku dari kartu undangan pernikahan. Di dalam kartu itu terdapat nama Pak Hendra dan Bang Akmal. Kebetulan salah satu anggota polisi yang bertugas merupakan tetangga Bang Akmal. Sehingga mereka menghubunginya.
"Ikhlaskan kepergian Hanan, Agisna," ujar Ummi sambil memelukku yang masih menangis.
Abi dan Bang Akmal pamit untuk mengurus jenazah Mas Hanan dengan pihak rumah sakit. Jenazah segera dibawa pulang dan dikebumikan.
Cintamu Tak Berujung Menantiku
Satu tahun sudah, sejak kepergian Mas Hanan. Aku masih belum bisa berdamai dengan hati. Sudah banyak juga laki-laki yang datang melamar, tetapi hatiku masih saja tertutup. Termasuk Bang Akmal semakin sering main ke rumah.
Pagi itu, Bang Akmal menghampiriku yang sedang duduk di tepi pantai. Kami berdua adalah teman dari kecil. Bang Akmal lebih tua empat tahun dariku. Ia seorang pengusaha sparepart motor yang sudah sukses.
"Gisna, menikahlah dengan Abang." Sudah yang ketiga kalinya Bang Akmal memintaku.
"Maaf, Bang, aku tidak bisa. Hatiku telah pergi bersama Mas Hanan," jawabku tertunduk.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku," ucapnya penuh keyakinan.
Terkejut dengan kata-kata Bang Akmal, aku pun menoleh ke arahnya. Saat mata kami bertemu, segera kualihkan pandangan. Aku merasa sesak di dada. Seorang laki-laki saleh, tampan, penyayang, dan perhatian sedang menyatakan cintanya padaku. Akan tetapi, hatiku tidak tersentuh sama sekali.
"Masih banyak perempuan di luar. Bang Akmal bisa dapatkan yang lebih baik dariku," ujarku dengan senyum simpul menatap laut.
"Walaupun sejuta perempuan yang ada di luar sana, tapi cintaku hanya untukmu Agisna."
Bang Akmal menatapku lekat, aku bisa melihat sorot mata kejujuran di dalam sana. Aku hanya bisa menarik napas panjang dan membuangnya pelan.
"Aku akan tetap menunggumu, Gisna. Mencintaimu dalam diam dan terus meminta kepada Sang pemilik hati untuk memberikan hatimu padaku," ucap Bang Akmal, kemudian pamit pulang.
Aku menatap ombak yang sedang berpacu di atas air. Sesekali ombak itu terhempas kuat oleh angin kencang dan menghantam batu, seperti hatiku saat ini yang hancur dengan kepergian Mas Hanan di hari pernikahan. Sungguh memberi trauma yang mendalam. Air mataku mulai meleleh deras.
***
Jodoh, rezeki dan maut merupakan rahasia Allah. Dialah Yang Maha Mengetahui apa yang tak kita ketahui. Bang Akmal masih tetap setia datang mengunjungiku juga pada Ummi dan Abi.
Aku dan Bang Akmal sudah menyerahkan semua urusan kepada Allah ta'ala semata. Yakin akan takdir-Nya yang terbaik, kami berdua terus perbaiki diri agar cinta yang hakiki bermuara ketaqwaan hanya pada Sang Maha Cinta.
Tamat
Written by Cean
Riau, 28 juli 2021
👍👍👍👍
BalasHapusKeren 🤩
BalasHapus