Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kisah Sedih Sista Salma dan Fatimah

Kumpulan Cerita Sedih Terbaru yang Mengharu Biru



Sinar mentari pagi begitu hangat menambah semangat Salma. Motor matiknya yang dikendarainya memasuki kawasan Masjid Raya yang masih terlihat sepi. Salma tidak ingin terlambat di hari pertamanya untuk belajar agama Islam. Setelah memarkirkan motornya, Salma masuk ke gedung yang bewarna kuning muda itu.

"Hai! Assalamualaikum," sapa seorang perempuan cantik menghentikan langkah Salma.

"Waalaikumsalam," jawab Salma menoleh ke arah suara.

"Kenalkan, saya, Fatimah."

"Saya, Salma. Senang berkenalan denganmu."

Kedua perempuan itu pun bersalaman. Lalu, berjalan beriringan menuju ke ruangan yang telah disiapkan untuk para muallaf.

"Salma, apakah kamu muallaf juga?" tanya Fatimah hati-hati.

"Iya, Fatimah." Salma menjawab dengan mata berbinar.

"Ini ruangan kita belajar nanti."

"Ini hari pertamaku," ujar Salma tersenyum manis pada sahabat barunya itu.

Tidak lama kemudian satu persatu muallaf masuk ke ruangan berukuran empat kali lima meter itu untuk mendapatkan bimbingan agama. Sang ustadz yang bertugas sebagai pembimbing pun telah memasuki ruangan. Ilmu yang akan mereka pelajari adalah tahsin, fiqih, tauhid serta hapalan dan praktik salat yang benar. Semua sangat antusias dan menyimak. Dalam ruangan itu terdapat berbagai suku dari berbagai daerah. Namun, ikatan persaudaraan muallaf yang ada dalam hati mereka sangatlah kuat. Serasa menemukan keluarga baru.

"Salma, ayo kita belajar ngaji setelah pulang dari kelas bimbingan, biar kita cepat bisa baca Al-Qur'an," ujar Fatimah.

"Wah, maulah! Sama siapa?" tanya Salma.

"Sama, Ustadz Ahmad."

"Mau! Mau!" sahut Salma dengan mata berbinar.

Fatimah lalu mengutarakan keinginannya kepada Ustaz Ahmad untuk belajar privat di rumahnya setelah pulang dari kelas bimbingan. Ustad Ahmat pun bersedia, Fatimah dan Salma merasa sangat senang. Bagi seorang muallaf, bisa membaca Al-Qur'an dengan tartil itu adalah satu kebanggaan yang tidak terkira.

Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan pun berlalu. Mereka mulai lancar dan fasih dalam mengaji. Tentu, pencapaian itu merupakan satu kebahagian yang tak terhingga bagi Fatimah dan Salma.

***

Kabar Kehamilan sungguh Membahagiakan

Sudah tiga minggu Fatimah izin tidak bisa mengikuti kelas dengan alasan hamil. Tentu, kabar berita ini begitu membuat bahagia semua teman-teman ya ada dalam kelas muallaf. Doa kebaikan tercurahkan untuk Fatimah dan janinnya.

"Assalamualaikum." Salma mengucapkan salam. Ia sengaja menjenguk sahabatnya, karena hari ini adalah hari Minggu. Kelas bimbingan muallaf libur belajar.

"Waalaikumsalam." Suami Fatimah—Bang Ajo—menjawab salam.

"Fatimah, ada, Bang?" tanya Salma pada laki-laki bertubuh gemuk itu.

"Ada, silakan masuk. Langsung saja ke kamar, Sal," kata Bang Ajo.

Bang Ajo tentu mengenal Salma, sahabat dekat istrinya yang sama-sama muallaf. Fatimah dari suku Batak dan Salma dari suku Thionghoa, dengan hidayah Allah mereka di satukan dalam ikatan persaudaraan Islam.

"Hai, Fatimah. Gimana keadaanmu sekarang?" Salma masuk ke kamar Fatimah, lalu memeluk sahabatnya yang terbaring di atas kasur.

"Aku, masih lemes mual juga pusing," sahutnya dengan nada lemah.

"Itu, namanya ngidam. Kamu harus kuat dan sabar. Semangat, ya!" Salma terkekeh.

"Iya," ucapnya Fatimah bahagia.

"Sudah berapa bulan kandunganmu, say?"

"Masuk tiga bulan."

"Paksain makan biar badanmu kuat," ucap Salma sembari menggenggam tangannya, di balas anggukan kepala Fatimah.

"Teman-teman semua rindu padamu, mereka belum bisa jenguk kamu jadi pada titip salam."

"Wa’alaikumsalam dan salam kembali ya." Wajah Fatimah mulai tampak semangat.

Kedua perempuan yang baru mengenal Islam itu saling berbagi cerita, melepas rasa rindu. Tidak terasa waktu telah menunjukkan senja, tibalah saatnya Salma pamit pulang.

"Fatimah, aku pamit pulang dulu ya. InsyaAllah lain kesempatan aku datang lagi,"

"Iya, Salma, pintu rumahku selalu terbuka untukmu,' ujar Fatimah penuh rasa haru dan bahagia. Mereka berpelukan, kemudian Salma keluar dari kamar sahabatnya.

"Bang, Ajo, Salma pamit pulang dulu."

"Oh, iya, terima kasih atas kunjungannya," ucap Bang Ajo.

Waktu terus berlalu kehamilan Fatimah semakin besar. Saat kehamilannya memasuki usia enam bulan ia merasakan matanya semakin rabun dari hari ke hari. 

"Bang! Mataku tidak bisa melihat!" Fatimah meraung menangisi kedua bola matanya yang tidak berfungsi lagi.

"Sayang, ayo kita periksa ke dokter mata," ajak suaminya.

"Iya, Bang." Fatimah masih terisak.

Mereka menuju ke klinik spesialis mata. Tidak lama kemudian mereka mendapatkan keterangan dari dokter. 

"Begini, Pak Ajo, karena Bu Fatimah sedang hamil saat ini, otomatis tidak bisa rontgen jadi kita tunda dulu hingga Bu Fatimah siap lahiran," ujar dokter spesialis mata itu.

"Bu Dokter, apakah kondisi istri saya ini bawaan bayi yang seperti kata orang-orang?" tanya Ajo. 

"Untuk saat ini saya tidak berani menyimpulkan, Pak Ajo. Tetapi ada juga beberapa kasus seperti Bu Fatimah, dan setelah melahirkan penglihatannya pulih kembali," ucap dokter kandungan tersenyum ramah.

"Baik, Bu dokter."


***

Harapan yang Tidak Sesuai Keinginan

Awalnya, Ajo, beserta keluarga dan teman-temannya menganggap kalau rabun di mata Fatimah itu bawaan si bayi dalam kandungan, nanti setelah melahirkan bawaan bayi ini akan hilang.

Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba, Fatimah melahirkan anak pertamanya. Seorang anak laki-laki yang sangat menggemaskan. Namun, Fatimah tidak bisa melihatnya.

Waktu berlalu begitu cepat tak terasa bayi laki-laki yang tampan itu, kini telah berusia empat bulan. Ajo kembali membawa Fatimah untuk Rontgen. Kali ini mereka ke Malaysia, berharap ada harapan di negeri Jiran itu.

"Apa? Sebanyak itukah Bang?" Fatimah terkejut mendengar kata-kata dari suaminya saat mereka di dalam kamar hotel.

"Iya, Dek. Operasinya 600 juta."

"Semahal itukah, Bang?"

"Tentu sangat mahal, Dek. Operasi ini bukan operasi biasa. Kanker yang bersarang di kepalamu sudah besar dan menindih syaraf matamu, karena itulah matamu tidak bisa melihat."

"Berapa persen tingkat keberhasilannya?" tanya Fatimah dengan hati gelisah.

"0.01 persen," ujar Ajo sedih.

"0,01 persen? Dan tidak jamin mataku bisa lihat kembali? Kalau gitu aku tidak mau dioperasi, Bang." Fatimah menangis tersedu-sedu. Ajo segera memeluk istrinya, tangis Fatimah begitu pilu. Melihat sang istri begitu sedihnya Ajo sungguh tidak berdaya.

"Lebih baik uang itu untuk biaya hidup dan sekolah anak kita, Bang." Kembali Fatimah meraung, ia hanya bisa menerima takdirnya.

Hampir seminggu di negeri Jiran, akhirnya Ajo dan Fatimah kembali ke tanah air. Fatima bersikeras ia meminta dirawat di rumahnya saja.

Semakin hari tubuh Fatimah semakin kurus, tinggal kulit membalut tulangnya. Mahkota indahnya itu pun habis rontok tak bersisa, kini kepalanya menjadi botak licin. Air mata Salma mengalir deras melihat sahabat dekatnya menjadi seperti itu.

"Salma, maukah kamu jadi maduku?" 

"Apa? Ngawur saja kamu, Fatimah!"

Salma terdiam, ia sungguh terkejut mendengar permintaan dari Fatimah barusan, hatinya terluka begitu sakit rasanya. Terlebih lagi hati istri yang sedang tidak berdaya meminta perempuan lain untuk menjadi penggantinya, rasanya seperti ribuan belati yang menghunus berkali-kali tepat di jantungnya.

"Sungguh, Salma, jadilah maduku. Aku tahu kamu, Salma. Kamu adalah perempuan yang sangat baik dan kamu akan tulus merawatku. Bila perempuan lain yang menjadi maduku, aku tidak yakin. Aku pasti akan dianiaya, aku takut Salma."

"Aku tidak bisa, Fatimah. Bagaimana bisa aku menjadi madumu? Aku tidak sanggup melakukan itu, maafkan aku." Salma menangis begitu juga dengan Fatimah mereka berpelukan erat dengan air mata berlinang.

Tiga tahun Fatimah berjuang melawan kanker tumor yang bersarang di kepalanya. Ternyata Allah begitu sayang kepada Fatimah, Sang Khalik tidak ingin melihat Fatimah tersiksa lagi. Fatimah telah berpulang ke pangkuan Illahi, meninggalkan kenangan indah pada teman-temannya terutama Salma.


Tamat


Autor by: Cean

Riau, 27 juli 2021

1 komentar untuk "Kisah Sedih Sista Salma dan Fatimah"