Cinta Romantis! Menjadi Istrimu Adalah Takdir Terindahku
Her Voice is so Sweet, The Romantic Story of The Most Beautiful Destiny of My Love
"Aldo, kita mampir dulu di masjid terdekat," ajak Sameer pada Aldo, temannya yang sedang menyetir mobil.
"Emang ada masjid di daerah sini, Sam?" Aldo masih menjalankan mobilnya.
"Seingatku ada, Do. Aku pernah lewat jalan ini, memangsih sudah lama. Tapi aku yakin, tak akan salah. Nah, itu dia masjidnya." Sameer menunjuk sebuah masjid kecil di pinggir jalan. Pengusaha sukses yang memiliki perusahaan elektronik dan dua bangunan hotel berbintang lima itu memang rajin beribadah. Sameer sendiri adalah peranakan Prancis dan Indonesia, ibunya warga negara Indonesia dan bapaknya warga negara Prancis.
Aldo memarkir mobil di halaman masjid. Waktu Salat Asar hampir habis, mereka berdua segera turun dari mobil dan bergegas menuju ke tempat wudu.
Sameer dan Aldo segera menjalankan empat rakaat kewajiban mereka. Setelah selesai Salat, Aldo keluar lewat pintu utama masjid. Sedangkan Sameer lewat pintu samping.
Bagian teras samping masjid terdapat anak-anak TPQ sedang mengaji. Sameer duduk di lantai masjid untuk memasang kaos kakinya, pada saat itu ia mendengar suara merdu seorang perempuan sedang menyanyikan lagu sholawat diikuti suara anak-anak.
Sameer pun menoleh ke sumber suara. Seorang perempuan muda, anggun ,dan cantik. Kulitnya bersih, memiliki mata indah dengan sepasang bulu mata yang tebal, hidung mancung, dan bibir tipis sedang asik mengajari anak-anak bersalawat. Sameer bisa melihat dengan jelas karena jaraknya dengan perempuan itu tidak begitu jauh.
Sesaat Sameer terpana dengan keindahan makhluk ciptaan Allah itu. Kalau saja suara klakson mobil Aldo tidak membuyarkan lamunannya, tentu Sameer akan betah berlama-lama memandang wajah cantik itu.
"Resek lu, Do, pakai klakson segala lagi." Sameer mengumpat pada temannya.
"Lu sih, lama amat, emang lagi ngapain lu, hah?" tanya Aldo dengan alisnya naik sebelah.
"Ada deh, rahasia," jawab Sameer dengan senyum simpul.
Sameer dan Aldo melanjutkan perjalanan. Mereka akan menghadiri acara resepsi pernikahan Dani, teman dekat mereka. Masa kuliah dulu mereka ketiganya selalu dipanggil trio Macho karena memiliki wajah tampan dan cool. Kini, Dani duluan menikah.
Setelah meninggalkan masjid itu, Sameer lebih banyak diam. Wajah guru ngaji cantik yang baru saja dilihatnya tadi, terus terbayang di pelupuk mata. Sesekali Sameer tersenyum sendiri, Aldo merasakan ada yang aneh dengan temannya itu.
"Sam, lu kesambat jin apa, senyum- senyum sendiri gitu." Aldo penasaran, tidak biasanya Sameer seperti itu.
"Apaan sih, Resek banget. Mau tau urusan gue aja, lu," sahut Sameer salah tingkah.
"Lu, gak bisa bohongin gue, Sam, lihat wajah lu kagak jelas gitu," sahut Aldo geli melihat Sameer.
Sameer memilih diam, tidak menghiraukan Aldo, tak lama mereka berdua sudah sampai di tempat acara. Sameer dan Aldo turun dari mobil, dan berjalan ke arah pengantin. Sebagian tamu undang menatap Sameer dan Aldo tidak berkedip, terutama emak-emak.
"Happy wedding day, Bro." Sameer menjabat tangan Dani, memeluk dan mendoakannya. Lalu disusul dengan Aldo.
"Thanks, Bro, ente berdua sudah mau datang ke acara gue," jawab Dani, "Yuk kita masuk ke dalam rumah sebentar lagi masuk waktu magrib." Dani mengajak kedua temannya itu ke dalam kediamannya.
It's You Did I See Wrong
Suara azan Magrib mendayu-dayu memanggil setiap hamba Allah untuk menunaikan kewajiban mereka. Acara pesta Dani pun ditunda sampai selesai waktu salat Isya karena jarak Magrib dan Isya pendek waktunya.
Sameer, Aldo dan Dani salat berjamaah di rumah Dani. Setelah itu mereka bercengkerama di ruang keluarga, sambil menunggu waktu Isya. Sementara mempelai wanita berada di kamarnya.
Tanpa sengaja, Sameer menangkap sosok perempuan cantik yang dilihatnya di TPQ tadi.
"Siapa yang memakai baju Pink itu?" tanya Sameer menunjuk ke arah yang di maksud.
"Oh itu, adik sepupuku, Salma. Dia baru saja selesai kuliah S-1 Ekonomi Syariah di Malaysia," Ujar Dani. "Mau kukenalkan?" tanyanya tersenyum jahil diikuti Aldo.
"Nggaklah ... apaan!", sahut Sameer salah tingkah dengan wajah memerah. Aldo dan Dani tertawa terbahak-bahak melihat Sameer salah tingkah.
Setelah salat Isya, acara pesta pun dilanjutkan hingga malam. Ketiga sahabat itu masih berbincang asyik. Sebelum malam bertambah larut, Sameer dan Aldo pamit pulang.
"Sam, enam bulan lagi giliran gue yang menikah, so, lu kapan, Bro?" Sambil nyetir Aldo bertanya pada sahabatnya yang masih jomblo. Di antara mereka bertiga tinggal Sameer yang belum memiliki calon.
"Jodoh, maut, rezeki, semua itu rahasia Allah. Bila waktunya telah tiba, akan datang dengan sendirinya," jawab Sameer enteng.
"Salah kamu, Sam, jodoh tidak datang begitu saja, harus kamu kejar. Kalau kamu tidak berani memperjuangkan, siap-siap diambil orang lain." Kali ini ucapan Aldo benar-benar menggelitik hati Sameer.
***
"Ukhti Salma, ini ada hamba Allah yang bersedekah untuk anak-anak TPQ." Pak Rahmat, imam masjid menyerahkan dua kantung besar berisi nasi kotak.
"MasyaAllah ... terima kasih, Pak Rahmat," ujar Salma.
"Sama-sama, Ukhti Salma," sahut Pak Rahmat.
"Alhamdulillah ... anak-anak, Kita dapat sedekah makan nih ..., nah, ngajinya lebih semangat lagi ya. Yuk, kita berdoa untuk orang yang telah berbagi makanan ini," ajak Salma pada anak-anak santrinya.
"Semoga yang bersedekah, Allah berikan kesehatan, kelapangan rejeki, keberkahan, dan dikabulkan semua hajatnya." Doa dari Salma diaminkan oleh para santri dan juga Sameer.
Pemuda itu bisa mendengar setiap kata doa dari Salma walaupun terhalang tembok. Sameer duduk di dalam masjid tepat bersebelahan dengan Salma.
Kegiatan berbagi sedekah yang dilakukan Sameer sudah berjalan selama tiga bulan. Hampir setiap sore, Sameer mengunjungi masjid itu dan mulai mengikuti kajian dan kegiatan yang ada di masjid dan terus memperbaiki hubungannya dengan Allah. Di setiap sepertiga malam terakhir, dalam sujudnya ia menangis meminta ampun atas segala dosanya dan memohon jodoh yang terbaik menurut Allah.
"Assalamualaikum, Ukhti." Sore ini, Sameer memberanikan diri menemui Salma.
"Wa'alaikumus salam." Salma menjawab salam dengan sedikit terkejut, tidak menyangka pemuda itu akan menyapanya. "Afwan Akhi, saya permisi dulu." Salma langsung menghindari Sameer, meninggalkannya mematung sendirian.
Hurry Up Before it's too Late
Pak Rahmat tersenyum simpul melihat kejadian barusan, dan mendekati Sameer. "Akhi, cara ente salah, kalau ente benar suka sama Ukhti Salam segeralah minta pada orang tuanya, sebelum terlambat." Lelaki bersorban putih itu mengajari Sameer.
"Oh, gitu ya, Pak? Baik Pak, akan segera saya laksanakan," ucap Sameer dengan mata berbinar dan pamit pada Pak Rahmat.
Sameer menyetir mobil menuju ke arah rumah Dani. Hatinya mulai gelisah takut lamarannya ditolak, takut ia terlambat semuanya bercampur aduk. Akhirnya Sameer sampai di rumah Dani.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumus salam, tumben lu kesini, sepertinya ini masalah serius?" tanya Dani pada temannya yang sudah duduk di kursi teras.
"Dan, temani aku melamar Salma, ya," ucap Sameer malu dan gelisah.
"Lu serius, Sam?" tanya Dani.
"Iyalah Dan, aku baru kali ini punya rasa sama perempuan," jawab Sameer.
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang." Dani tak mau membuang waktu untuk hal yang baik.
Begitu sampai di rumah Salma, Sameer dan Dani disambut ramah oleh kedua orang tua Salma. Pak Hasan dan Bu Aminah. Setelah berkenalan Sameer memberanikan diri mengutarakan maksud kedatangannya.
"Pak, saya ingin melamar putri Bapak, Salma," kata Sameer mantap.
"Nak, Sameer, Bapak dan Ibu sangat senang mendengarnya. Namun, kemaren sudah ada seorang ustad bernama Hadi yang datang melamar Salma dan Bapak sudah menerima pinangannya. Dalam agama kita seorang laki-laki tidak boleh melamar seorang wanita yang sudah dilamar lelaki lain. InsyaAllah, bulan depan mereka akan menikah. Bapak harap Nak Sameer mengerti."
Sejenak Sameer terdiam, suasana jadi hening, semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Baiklah, Pak, saya mengerti, tapi saya akan terus berdoa untuk kebahagiaan Salma," ucap Sameer dengan sendu.
Sameer dan Dani pamit pulang. Semeer mengantar Dani kembali ke rumahnya.
Maaf, Sob, aku tidak tahu kalau Salma sudah dilamar orang. Sabar ya, banyak berdoa. Bila memang jodohmu akan Allah dekatkan," kata-kata Dani memberikan kekuatan pada Sameer.
Terima kasih, Sob, atas bantuanmu. Aku pamit dulu, ya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumus salam," jawab Dani.
You Are Destined to be Mine
Hari ini pernikahan Salma dan Ustad Hadi, akat akan dilangsungkan di sebuah gedung pertemuan. Orang tua Salma mengundang Sameer, sehingga pemuda itu memutuskan untuk datang demi menghormati mereka. Sesaat sebelum akat dilaksanakan, Sameer melihat Salma mencuri pandang ke arahnya. Meski sekilas, akan tetapi Sameer merasa ada yang berbeda dalam tatapan gadis itu. Entahlah.
Dada Sameer terasa sesak saat ijab kabul selesai dibacakan. Pupus sudah harapannya untuk memiliki Salma. Dani mengusap punggung Sameer, karena memahami perasaan sang sahabat. Di pelaminan, Salma nampak tertunduk sambil sesekali menyusut sudut mata. Khawatir tidak mampu menahan gejolak perasaan, tanpa menunggu lebih lama Semeer pamit setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
Sameer baru saja memarkirkan mobil di garasi rumahnya saat telpon dari Dani masuk.
"Sam, ada kabar duka. Mobil pengantin yang dikendarai Salma dan suaminya mengalami kecelakaan."
"Apa? Innalillahi wa Inna ilaihi rooji'uun. Di mana kejadiannya, Dan? Bagaimana kondisi Salma dan suaminya?"
"Tadi saat mereka kembali dari gedung tempat acara pernikahan menuju ke rumahnya. Ustad Hadi tak tertolong, tapi Salma masih koma akibat benturan di kepala." Dani menjelaskan.
Sameer kembali menyalakan mesin mobil. Dia harus memastikan kondisi Salma.
***
Seminggu setelah kecelakaan maut itu, Salma sadar dari koma. Perlahan tapi pasti gadis itu berangsur sembuh, baik dari luka lahir maupun batin. Kepergian sang suami yang belum sehari menikahinya ternyata cukup menorehkan duka mendalam. Sameer begitu ingin menjadi pelipur lara untuk mengembalikan semangat hidup gadis itu.
Selepas masa iddah Salma, ia kembali melamar gadis itu kepada orang tuanya, Pak Hasan dan Bu Aminah. Namun, Salma meminta agar diberi waktu untuk lebih menenangkan diri dan memantapkan hati.
Dalam penantiannya, Sameer terus memperbaiki ibadahnya, terus bersedekah untuk anak-anak TPQ tanpa diketahui Salma. Memohon dan meminta kepada Sang pemilik hati, kalau Salma adalah jodohnya.
Enam bulan kemudian, sebuah kabar gembira datang untuk Sameer, lamarannya diterima Salma dan orang tuanya. Selama setengah tahun ini Sameer tidak menyerah sedikitpun untuk meyakinkan Salma akan niat baiknya.
Pesta besar-besaran diadakan di salah satu hotel milik Sameer. Semua berbahagia terutama Dani dan Aldo, sahabat dekatnya. Ucapan selamat dan doa tiada henti untuk Sameer dan Salma di hari pernikahan mereka.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, semua tamu undangan sudah pulang dari pesta pernikahan sepasang pengantin baru ini. Sameer pun membawa Salma ke sebuah apartemen mewah miliknya.
"Kita salat sunnah dulu ya, baru istirahat," kata Sameer berjalan menuju kamar mandi membersihkan dirinya.
"I-iya," jawab Salma gugup.
Tak berselang lama, Sameer pun keluar dengan handuk terlilit di pinggangnya. Air dari rambut yang basah masih menetes, semakin menambah ketampanannya. Salma menunduk tidak berani melihat tubuh suaminya sendiri. Ia begitu malu dan bergegas masuk ke kamar mandi. Tak perlu lama Salma sudah siap dengan mukenannya.
Dua rakaat yang diimami Sameer membuat Salma menitipkan air mata, begitu mendengar bacaan suami yang baru saja menikahinya, begitu merdu. Selesai Salat Salma mencium tangan Sameer takzim.
Sameer mengecup lembut kening Salma, memeluknya dan berisik,"Thank You For Wanting To Be My Wife, Honey."
Salma mengangguk sambil tersenyum, "Sama-sama, Mas. Sebenarnya aku pernah menyukaimu saat sering melihatmu di masjid, tapi aku malu," ujar Salma dengan wajah bersemu merah.
"Aku tiada hentinya meminta sama Allah, kalau kamulah jodohku," ujar Sameer. Nah, walaupun kamu sekarang sudah jadi istriku kita tetap sedekah untuk anak-anak santri, okey," ucap Sameer tersenyum manis.
"Apa?Jadi hamba Allah yang bersedekah di Masjid tempat aku ngajar itu adalah Mas Sameer?" tanya Salma. Dia baru menyadari hal itu setelah mendengar penuturan dari suaminya.
"That's Right, memang kenapa, Dek?" tanya Sameer heran.
"Aku berdoa meminta kepada Allah, semoga diberikan seorang suami seperti hamba Allah itu, yang suka bersedekah." Salma menangis terharu. Begitu juga dengan Sameer semakin erat memeluk istrinya.
Hari semakin malam, mereka berdua naik ke peraduan dengan penuh rasa syukur atas semua nikmat dan takdir terindah yang telah dianugrahkan-Nya.
Tamat.
Riau, 23 Oktober 2021
Terima kasih sudah membaca tulisan ini jangan lupa yinggalkan jejak ya:)
Keren 😍 n
BalasHapusNggak sabar nunggu cerpen-cerpen lainnya 😍
Terima kasih kenan singgahnya kak🙏
HapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus