Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Cinta Lain Dunia Inikah Tanda Cinta Sejati

Kisah Cinta Romantis dengan Laki-laki Dunia Lain


Ceanco- Percintaan, bahkan pernikahan beda dunia hanya ada di film televisi bukan? Tetapi bagaimana jika ternyata bangsa mereka ada di sekitar kita dan jatuh cinta kepada mereka yang berlainan dunia dengan kita? Seperti kisahku ini. 

Tidak pernah terbayangkan, takdir menggariskan aku berjodoh dengan laki-laki lain dunia denganku. Namun, aku tidak pernah menyesalinya. Sedikitpun tidak pernah dan tidak akan.

Senja tertutup awan hitam dan samburat mulai menghiasi. Tetes demi tetes tirta berjatuhan ke bumi membuat langkahku berhenti di  sebuah teras ruko kosong.

Hembusan angin sejuk tiada hentinya menyapu kulit dan menusuk ke tulang persendianku, membuat gigiku beradu menahan kedinginan. 

Hari semakin gelap dan sunyi, aku masih berdiri di sini merapat ke dinding. Tiba-tiba sebuah suara menyapaku.

"Ini, pakailah." Entah dari mana datangnya lelaki tampan ini, tau-tau sudah berada di hadapanku dengan sebuah payung terjulur dari tangannya.

"Terima kasih," sahutku, sempat iris kami beradu dan segera kusambut payung itu dari tangannya.

Lelaki itu tersenyum lalu berbalik badan dan melangkah dalam rintik hujan, aku menatap punggung yang mulai menjauh. Lalu, aku pun mengejarnya, kusamakan langkah kaki kami. Dia menatapku dan sesekali terdengar suara batuk, sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja.

Tiba-tiba lelaki ini ambruk di depanku, spontan dengan cepat aku segera menarik tangannya. Kulitnya terasa dingin seperti es beku. 


"Kamu sakit ya, harus segera berobat kalau gitu," ujarku.

"Tidak. Tidak usah, tar lagi juga baikan," jawabnya.

Tak lama dia meringkuk di tengah jalan. Dia  seperti menahan sakit yang amat sangat, terlihat dari raut wajahnya yang meringis kesakitan.

"Ayo, ikut ke rumahku saja, kebetulan rumahku tidak jauh dari sini."

"Aku tidak bisa ke rumahmu kalau tidak diundangan langsung olehmu," ujarnya dalam keadaan menahan sakit.

"Baiklah, aku mengundangmu datang ke rumahku, ucapku meyakinkannya.

Dia pun mengangguk, lalu kami berdua berjalan di bawah rintik hujan yang sejak tadi menyirami bumi.

Sesampai di rumah, aku memapahnya duduk di sofa dan mengambilkan handuk kering. Saat aku keluar dari kamar kulihat dia sudah terlelap, wajah tampan itu begitu putih nyaris tak berdarah.

Hujan seharian membuat cuaca semankin dingin di malam hari. Rasa lelah mulai menghampiriku dan aku pun tertidur di sofa yang berada di depan laki-laki itu.

Keesokan, suara kicau burung di pagi hari bersahut-sahutan begitu merdu, membuat aku terbangun dari lelap. 

"Dia, sudah pergi," gumamku.

Aku melihat laki-laki itu sudah tidak ada lagi di sofa tempat dia tidur semalam. Sungguh ingatan awal perjumpaan aku dengan dia sangat membekas.

Saatnya Aku Mengutarakan Isi Hatiku

Hari ini tepat satu tahun hubunganku dengan dia. Sudah saatnya aku membuat keputusan. Aku segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu menuju ke cafe. Aku bekerja di sebuah cafe dekat pinggir kota. Setiap pagi adalah semangat baru bagiku.

"Pagi Din!" Itu suara cempreng Yesi menyapa saat aku tiba di tempat kerja.

"Pagi juga Ndut," jawabku sembari terkekeh ke arahnya."

"Hei ... hei ... biar gendut begini yang ngantri banyak tau," sahutnya kesel.

"Iye ... iye, percaya kok," jawabku tersenyum geli padanya.

Kami pun mulai bekerja, pengunjung semakin ramai menikmati kopi dan roti. Cafe ini menjual banyak makanan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat senja pun tiba. Menampakkan gradiasi bewarna jingga nan indah di ufuk barat.

"Hari ini alamat kita pulang malam lagi nih, Din," ujar Yesi.

"Iya, lihat pelanggan gak putus-putus, rame, banget," lirihku.

Senja pun telah berlalu digantikan oleh rembulan malam yang memancarkan cahaya lembutnya, lelah mulai menguasai badanku. Tersebab dari pagi sibuk melayani tamu yangD tiada habisnya. Aku melihat di luar cafe berdiri seorang laki-laki tampan menatapku penuh semangat dan penuh cinta.

Aku melambaikan tangan padanya dengan menyunggingkan senyum manis. Dia pun mengangguk, seketika degup jantung ini mulai berpacu memompa cairan merah mengantarkan ke seluruh tubuh begitu hangat terasa.

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, jam pulang kerja berakhir dengan tanda dimatikannya lampu-lampu cafe. Semua pekerja sudah pulang.

"Maaf, sudah lama menunggu," ujarku pada lelaki tampan yang kini berdiri di hadapanku.

"Tidak apa-apa, kok," jawabnya tersenyum manis melebih gula pasir.

Ryu, pun mengandeng tanganku dengan mesra. Kami menelusuri jalan terotoar yang telah disiapkan oleh pemerintah ditemani remangnya lampu jalan.

Sesekali iris kami saling memandang, ada siratan rindu yang begitu dalam dan cinta yang begitu besar di antara kami.

Saat aku menyeberangi jalan ada sebuah motor datang dari arah samping dengan kecepatan tinggi hampir menabrakku. Kalau saja saat itu Ryu tidak memelukku dan menghilang begitu saja, tentu aku sudah tidak bernyawa lagi.


"Aku ingin selamanya bersamamu." 

Tanganku masih memeluknya erat saat badan kami mendarat di tempat lain.


"Kita beda dunia, sayang," ujarnya mencubit hidungku dan tersenyum getir.

"Aku tidak perduli."

"Kenapa kamu masih saja keras kepala seperti tahun lalu, hmm?" Ryu mengacak rambutku lembut, dia tampak begitu tampan di bawah bolam lampu.

Ryu Haseda sungguh laki-laki yang tampan, kulit putih yang menutupi tubuh semampai dan kekarnya, sedingin kutub Utara. Mata tajam bermanik biru berhasil membiusku, begitu juga dengan hidung dan bibir tipisnya yang selalu tersenyum manis.

Tidak ada yang menyangka kalau Ryu adalah keturunan seorang vampir generasi terakhir. Akan tetapi, itulah kenyataannya, aku jatuh cinta pada Ryu. 

Biarpun kau dan aku lain dunia, bahkan semesta mempersatukan kita

Dimana hari itu hari libur kerja dan aku bergabung bersama teman-temanku yang mengadakan kamping di hutan. Aku pun tersesat dalam hutan rimba itu. Di saat seekor harimau akan menerkamku Ryu muncul dan menyelamatkanku. 

"Aku mencintaimu, sangat ...."

"Kita tidak bisa bersama sayang, kau tau itu, kan? Kecuali ...." 

Aku menatapnya nanar, gejolak dalam kalbu bagaikan air yang direbus menggelegak meletup-letup panasnya. Sebuah kecupan lembut kulabuhkan di bibir tipisnya, seketika tulang punggungku mengeras menahan hantam  ombak asmara dan berakhir dalam dekapan cinta.

Cinta tidak hanya menunggu ia datang menyapa saja tetapi harus diperjuangkan. Cinta butuh pengorbanan, bukankah segala sesuatu yang didapatkan melalui pengorbanan akan lebih tinggi nilai hargnya? 

Aku pun begitu, aku mencintai Ryu, aku tidak perduli kami beda dunia. Perjumpaan kami tentu adalah atas ijin Tuhan dan aku akan bertanggung jawab dengan pilihanku. Siap menjadi bagian darinya bersama-sama Ryu menggapai keindahan cinta. Dan aku telah memilih aku tidak akan menyesalinya.

"Okey ... okey, baiklah, ehm ... Adinda Maharani bersediakah kau menjadi permaisuriku? Arungi lautan cinta bersamaku? Will you marry me, Darling?" Ryu melamarku, berlutut menyodorkan sebuah cincin bermata biru.

Apakah cincin itu sudah lama disiapkannya untukku atau seperti bimsalabim muncul seperti sulap? Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu. Yang pasti, aku ingin bersamanya.

Sungguh pemandangan terindah yang kunantikan dalam satu tahun ini, terkabul sudah.

Air mataku berlinang dengan senyum bahagia aku menjawab tanpa keraguan, "Yes, I do."

Kebahagian bukan tunggu diraih tetapi harus dipilih dan diperjuangkan.

1 komentar untuk "Cinta Lain Dunia Inikah Tanda Cinta Sejati"